| Deskripsi/Description
Sulawesi
Utara satu dari 34 propinsi di Indonesia dengan ibukota
Manado. Sulawesi Utara terletak pada 0° 30´
– 4° 30´ LU dan 123° 00' - 127°
00' BT. Propinsi Geografis Sulawesi Utara Berbatasan
dengan :
Sebelah Utara : Negara Philipina
Sebelah Timur : Propinsi Maluku Utara
Sebelah Selatan : Propinsi Gorontalo
Sebelah Barat : Laut Sulawesi
Luas
Propinsi Sulawesi Utara adalah 15.272, 16 km2 , luas
tersebut termasuk dengan beberapa pulau , diantaranya
adalah Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Mantehage,
Pulau Talise, Pulau Bangka, Pulau Lembeh, Pulau Siau,
Pulau Tangkulandang, Pulau Karangkelang, Pulau Ruang,
Pulau Biaro, Pulau Sangihe, Pulau Salibabu dan Pulau
Kabaruan. Dan Sulawesi Utara memiliki garis pantai 1.837
km. Sulawesi Utara terbagi dalam tiga kotamadya, Manado,
Tomohon dan Bitung, serta enam kabupaten yakni Kabupaten
Minahasa Induk, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten
Minahasa Utara, Kabupaten Bolang Mongondow, Kabupaten
Sangihe dan Kabupaten Talaud.
Iklim/Climate
Sulawesi
Utara berikilim tropis , dengan rata –rata 32°
C pada siang hari dan 24° C pada malam hari. Pola
curah hujan jauh dari seragam. Curah hujan tahunan bervariasi
anatara 1.500 mm dan 2.800 mm, dengan curah hujan paling
lebat antara bulan Desember sampai dengan bulan Maret.
Pada bulan Agustus dan bulan September, merupakan masa
paling kering dalam setahun
Sejarah/History
Sebutan
untuk masyarakat Sulawesi Utara adalah orang Minahasa.
Minahasa bukanlah nama suatu etnik, melainkan sebuah
sebutan atau istilah yang pertamakali muncul dalam laporan
residen J.D Schierstein pada tanggal 8 Oktober 1789.
Pada saat itu terjadi perjanjian perdamaian yang mempersatukan
kelompok-kelompok sub etnik Bantik dan Tombolu (Tateli)
dan kelompok Toulour dan kelompok Tonsawang. Minahasa
berasal dari kata esa yang berarti satu, kata Maha –esa
berarti menyatukan berbagai sub-etnik Minahasa. Terdapat
delapan etnis yang merupakan penduduk asli Sulawesi
Utara. Kedelapan Sub etnis tersebut adalah : Toulour/
Tondano, dengan dialek Tondano yang mendiami daerah
bagian timur dan pesisir danau Tondano ; Totemboan,
dengan dialek Totemboan yang mendiami daerah barat daya
dan Selatan Danau Tondano ; Tonsea, dengan dialek Tonsea
yang mendiami sekitar bagian timur laut ; Tombolu, dengan
dialek tombolu yang mendiami daerah sekitar barat laut
danau Tondano ; Tonsawang/Tonsini, dengan dialek dan
bahasa Tonsawang yang mendiami daerah bagian tengah
Minahasa atau bagian Selatan daerah Tombatu ; Pasan/Ratahan,
dengan dialek – bahasa Ratahan yang mendiami daerah
bagian timur sebelah Selatan ; Ponosokan, dengan dialek-bahasa
Ponosakan yang mendiami daerah bagian selatan ; Bantik,
dengan dialek Bantik yang mendiami atau tersebar di
pesisir utara dan selatan kota Manado.
Hidupan Liar /Wildlife
Sulawesi Utara merupakan bagian penting dari garis Wallacea
di Indonesia bagian timur sejak 150 tahun yang lampau.
Garis Wallacea merupakan garis khayal dari ilmuwan Inggris
Alfred Russel Wallace tentang penyebaran binatang .
Garis ini seolah membatasi penyebaran satwa Indonesia
bagian barat dan Indonesia bagian timur . Banyak satwa
endemic Sulawesi yang terdapat dalam kawasan konservasi
di propinsi ini. Diantaranya, golongan Mamalia ; monyet
hitam Yaki (Macaca nigra), Kuskus Beruang (Ailurupos
ursinus), Tangkasi (Tarsius spectrum), Musang Sulawesi
(Macrogalidia musschenbroekii), Babirusa (Babbyrousa
babyrussa), Anoa Pamah ( Bubalus depressicornis), Anoa
Gunung ( Bubalus quarlesi), Kalong Talud (Acredon humilis)
dan Duyung (Dugong dugong)
Burung/bird
Sulawesi Utara merupakan tempat hidup dari 89 jenis
(yakni 86% dari total 103) burung endemic Pulau Sulawesi
dan pulau-pulau lepas pantai, dimana 13 jenis diantaranya
merupakan endemic Sulawesi Utara. Burung tersebut
meliputi Maleo ( Macrocephalon maleo), Rangkong (Rhyticeros
cassidix), Burung hantu gunung (Ninox ios), burung
hantu Punggok oker ( Ninox ochracea), Sikatan Matinan
(Cyornis sanfordi), Sampiri (Eos histrio), Burung
Niu ( Eutrichomyias rowleyi), Kakatua Jambul-Kuning
(Cacatua sulphurea), Pergam hijau (Ducula aenea),
Pergam putih (Ducula luctuosa), Jalak moloneti (Scissirostrum
dubium), burung pendeta ( Streptocitta albicollis),
raja perling sulawesi (Basilornis celebensis), Serindit
sulawesi ( (Loriculus stigmatus), Kadalan sulawesi
( Rhampococcyx calorhnychus), burung udang merah kerdil
(Ceyx fallax) , Elang alap sulawesi ( Accipiter griseiceps)
Vegetasi
Hutan Sulawesi Utara dapat di deskripsikan sebagai
hutan tropis malar hijau ( (Tropical ever green forest)
yang mencakup berbagai tipe vegestasi ( seperti hutan
rawa dan bakau, hutan pantai, hutan pamah/dataran
rendah, hutan pegunungan bawah, dan hutan gunung).
Hutan Sulawesi Utara banyak di tandai dengan adanya
suku-suku pohon tertentu seperti Moraceae, Annonaceae,
dan Eurphorbiaceae.
Kawasan Konservasi
Sebagai kawasan yang penting dalam keanekaragaman
hayati, Sulawesi Utara memiliki delapan kawasan konservasi
bagi perlindungan habitat satwa liar, terutama dari
ancaman kepunahan akaibat perburuan dan ancaman lainnya.
Kedelapan kawasan konservasi tersebut adalah Cagar
Alam Gunung Tangkoko-Dua Saudara, Cagar Alam Gunung
Lokon , Cagar Alam Gn Ambang, Suaka Margasatwa Manembonembo,
Suaka Margasatwa Karangkelang Utara, Suaka Margasatwa
Karangkelang Selatan, Taman Nasional Bunaken, dan
Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
|